WARNING: geje, siapalah ini tokohnya saya nggak ngerti juga ngetik apaan. saking cintanya sama winter dan lagu winter rosenya tvxq dan mengertilah saya juga lagi galau sama kyuhyun dan wanita cina mantan istrinya pangeran thailand itu /eaa /eaa. jadi ini intinya: BALIKAN GAK YAA ADA DONGHAE GODAIN TERUUUS X( /abaikan
recomended: tvxq - winter rose piano instrument
~* winter rose *~
winter rose
by: diandhe
desember. musim dingin. gadis itu suka musim dingin. ia menyukai bagaimana kabut turun melingkupi seisi kota, bagaimana kristal salju turun perlahan, bagaimana suhu dingin memeluk kota seoul, bagaimana ia bisa melihat uap yang keluar dari nafasnya sendiri, dan sensasi aneh ketika kakinya memijak daratan yang dilapisi es. ia juga menyukai musim dingin di malam hari karena nyala lampu tidak akan terlalu terang dan menusuk matanya.
"ini." gadis itu terjaga dari lamunannya, sesuatu yang hangat menyentuh punggung tangannya yang kemerahan. segelas kopi hangat tampak sangat menggoda dengan asap yang masih mengepul dari dalam gelas kertas itu.
"terima kasih." gadis itu tersenyum dan menyambut hangat segelas kopi susu dari konter di depannnya. sensasi menyenangkan dan hangat merambat ketika segelas kopi tersebut pindah ke tangannya, rasanya menyenangkan. ia menyesapnya sedikit dan membiarkan cairan kental itu membasahi kerongkongannya. "ini.." gadis itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku winter coat merahnya lalu menyerahkannya kepada petugas kasir, kemudian ia melangkah keluar dari antrian dan keluar dari kafe hangat di pinggiran kota seoul itu. udara dingin kembali menyergapnya, butiran salju yang berjatuhan mengiringinya sepanjang jalan. tapi ia menyukainya. gadis itu menyukainya, walaupun sepertinya orang2 berlomba2 untuk pulang ke istana pribadi mereka masing2, tempat paling nyaman di seluruh dunia.
ia terus berjalan menyusuri pinggiran kota seoul yang masih 'hidup', dan memang tidak pernah 'mati' walaupun ramalan cuaca mengatakan cuaca hari ini tidak akan lebih dari 3 derajat celcius. lampu2 berwarna warni yang menyala menantang dari gedung2 pencakar langit, kafe2 dan kedai2 yang ramai oleh pengunjung, taman kota yang telah dihiasi lampu2 berwarna kuning keemasan, tampak cantik dengan warna hijau daun dan putih salju yang melingkupinya. pandangan gadis itu tertuju kepada sesuatu yang berwarna merah muda yang mengkristal di bawah pohon besar. penasaran, gadis itu mendekat dan ia senang sekali melihat apa yang ia temukan; pohon mawar yang masih hidup, di musim dingin. winter rose. bunga mawarnya hanya ada satu, sudah dilingkupi es, namun tetap cantik, dan tangguh.
~*~*~*~
"kau tahu winter rose?" ujar gadis itu ringan sembari menatap ke luar jendela, di luar sedang turun salju, kesukaan gadis itu. "winter rose itu membuatku kagum..." gadis itu melanjutkan permainan pianonya, winter rose, komposisinya sendiri. yang diajak bicara sedang berdiri di pinggir jendela, menatap ke gedung2 pencakar langit di luar sana yang sudah diselimuti warna putih pucat, bersih. pria itu hanya tersenyum, mengagumi cara pandang gadis itu yang tidak biasa. setiap teori yang terlontar dari mulutnya selalu membuatnya terkejut.
"winter rose itu memang terlihat dingin dan angkuh, warna pucatnya tidak banyak berbicara, namun memiliki daya tarik tersendiri." alunan winter rosenya masih mengalir, dan pria itu masih menyimak dengan baik. ia akan menjadi pendengar yang baik hari ini. gadis itu seperti mendeskripsikan dirinya sendiri, 'winter rose'-nya. "winter rose itu jarang sekali ditemui, bunga yang tumbuh di musim semi dapat bertahan dengan baik di cuaca ekstrim, benar2 tangguh. dan duri2 tajam yang menemaninya membuat winter rose itu malah makin tangguh." jemari gadis itu berlari2 seperti penari di atas tuts hitam putih itu. lincah, gemulai bagaikan air.
"[insert ur name]" pria itu menggumam lirih. "ini membingungkan," ujarnya pelan, ia menerawang ke luar jendela, menatap langit dingin di luar sana.
"aku tahu." alunan winter rose itu berhenti. gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di sebelah pria itu. mereka bertatapan lama, menggali perasaan masing2 dan mencurahkannya satu sama lain. tidak perlu kata2 bualan, saling berdiam diri justru lebih efektif untuk menyampaikan isi pikiran mereka, seperti ada pada satu gelombang yang sama. "waktu berlalu begitu cepat bukan??" tanya gadis itu.
sang pria tersenyum. "tidak, sayang. waktu berlalu seperti biasa. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu..." gadis itu tidak bereaksi. "sudah hampir 2 tahun.. bagaimana hidupmu?" pria itu duduk di kursi piano dan mulai memencet tuts sembarangan, hanya beberapa rangkaian chords, tanpa makna.
"hidupku?" gadis itu tersenyum dan mengusap grand piano hitam yang berdiri angkuh di tengah ruangan luas itu. "tidak ada yang menarik, masih sama seperti dulu." ingatan gadis itu seperti melayang2 di antara masa lalu dan sekarang, pandangannya tidak fokus.
"kebetulan yang indah bukan, kita bertemu di sini..." pria itu berujar pelan. menatap gadis yang ada di hadapannya, gadis itu, yang sudah dua tahun tidak dilihatnya. "aku yang akan menyanyikan winter rose-mu itu... dan dari mawar es-mu itu.. apakah..."
"aku tidak tahu." potong gadis itu sarkatis. ia mengerti pembicaraan itu akan mengarah kemana. "mengertilah..." pria itu menunduk dalam, penuh rasa bersalah. dan kini rasa bersalah itu ikut berkecamuk mengaduk emosi gadis itu. mereka berdua kembali larut dalam diam. kembali terperosok ke dalam pikiran mereka sendiri.
"apakah pernah terucap kata selamat tinggal sebelumnya?" tanya pria itu ragu. ia sendiri bingung kenapa bisa seperti ini. "waktu yang membuat kita seperti ini bukan?"
"haruskah itu diungkit kembali???" gadis itu duduk bersandar pada piano hitam itu, menghadap jendela. ia tidak akan melewatkan salju cantik yang jatuh bebas seperti kapas. "semua baik2 saja sampai kau menghilang... ah tidak, kau hanya menghilang dari hadapanku. sampai hari ini. dan semua seperti baik2 saja." hening beberapa saat, pria itu mencerna tiap kata yang terlontar, ia membenarkan semuanya, ya. "tidak ada yang bisa kulakukan, hidup itu pilihan, dan apapun, siapapun pilihanmu aku hargai..." gadis itu mendengus pelan, tidak ada uap air, ruangan itu cukup hangat.
"akuilah isi pikiran kita masih sama. kau tahu betul apa isi pikiranku, dan aku pun demikian... jadi.. tolonglah..." pria itu menunduk dalam, seperti ada yang menusuk2 dadanya dengan paksa. 'winter rose', dia lah yang membentuk 'winter rose'-nya itu. cantik dan tangguh.
"kalau kau benar2 menginginkannya, kita masih punya hari esok..." gadis itu menatap pria itu sambil tersenyum. "akhir cerita ini bergantung padamu..."
~*~*~*~*~
gadis itu tersenyum mengingat kejadian siang tadi, ia percaya itu bukanlah kebetulan. ternyata menunggu bukanlah hal yang buruk, jika pada akhirnya semua akan kembali ke tempatnya semula. salju turun semakin lebat, ia merapatkan coatnya dan meninggalkan winter rose itu, masih berdiri angkuh di bawah pohon besar yang akan melindunginya dari terpaan badai. tidak ada akhir yang indah, tidak ada akhir yang menyedihkan, tidak ada akhir.
My only hope is that, you be at my side
Yes, close to heart, close to my love
The one and only love is here in my hands
I will be here only for you, always
Close to heart, close to your love
Our love blends together, in our hearts, winter rose
=fin=
yang ngerti cuma saya dan Allah SWT haha~ kalau kyuhyun mengerti... we're meant to be x( sure i can't be apart with you huhuhuhu sedih banget sekeras apapun move on ke donghae ujung2nya balik lagi balik lagi /bantingpspkyu. dan itu wanita cina................. entahlah.

0 comment:
Post a Comment