Saturday, September 10, 2011

fanfic - paris sonata [end]

ada yang inget fanfic ini??? *reader: ENGGAAAKKK~~*
hehehe. saya buat ff ini tahun 2009. such a long time ago kan???? lanjutannya belum dipost. hehe. tanggung, sekalian aja.
and this is part 1 --->>here^^



enjoy this...

Amore café adalah café mewah dengan lampu dan interior khas barat yang soft, anggun dan elegan. Semua yang datang menggunakan jas dengan rambut licin disisir ke belakang. Sedangkan yang wanita menggunakan gaun malam anggun penuh payet dan berkelap-kelip. Eun hyuk mencari kursi nomor 13. ia sengaja meminta kursi nomor 13 karena kursi nomor 15 sudah dibooking. Tiba2 lampu mati dan lampu sorot dinyalakan.
Seorang gadis dengan gaun hitam berkilau dengan rambut panjang bergelombang yang hanya dihiasi jepitan kupu2 kecil berwarna ungu masuk. Eun hyuk menajamkan pandangannya. Itu shin yoo jin. omona… dia tampak lain. Yoo jin duduk di depan piano klasik berwarna hitam menghadap penonton.
Ting ting ting.. lagu pertama dimainkan. Pertama iramanya lambat, namun semakin lama gerakan tangan itu semakin cepat. Matanya bergerak cepat mengikuti tangannya, cepat sekali. Bergerak dari tuts satu ke tuts yang lain. Wajah serius yoo jin bahkan tidak mengurangi kecantikannya malam ini. Eun hyuk kaget sekaligus kagum. Jantungnya mencelos seperti hilang entah kemana. Permainan itu sungguh seperti permainan pianis professional. Sungguh di luar dugaan. Eun hyuk memastikan kalau mulutnya tidak menganga selama pertunjukan. Baru kali ini ia antusias melihat pertunjukan seperti ini. Biasanya 5 menit setelah pertunjukan dimulai ia sudah menghilang ke alam lain. Lagu pertama selesai. Penonton bertepuk tangan riuh rendah.
Lagu kedua dimainkan. Iramanya antara cepat-lambat-sedang. Jemari itu menari dengan indah di atas tuts piano 8 oktaf itu. Matanya sesekali melirik partitur lagu yang bersandar di depannya. Penonton banyak bergumam menggunakan bahasa perancis, entah apa itu eun hyuk tidak mau tahu. Ia sedang terfokus dengan permainan yoo jin. mustahil sekali permainan seperti ini dikuasai oleh seorang yang bukan pianis professional. Yah, tapi itulah. Yoo jin menguasainya.
Tiga lagu sudah selesai. Setelah membungkuk menghadap penonton, yoo jin menghilang di belakang panggung dan tak lama muncul di hadapan eun hyuk sambil memegang wajahnya. Kentara sekali kalau ia sedang gugup.
“permainanku, bagaimana??” tanya yoo jin dengan suara bergetar. Eun hyuk mengacungkan jempolnya.
“bagus sekali. Aku tidak menyangka kemampuanmu sungguh di atas rata2.” Yoo jin melebarkan senyumannya.
“jongmal?? Aku gugup sekali tadi. Itu pertama kalinya aku bermain sonata pada pertunjukanku,” katanya sambil memegangi wajahnya. Sonata? Eun hyuk pernah mendengarnya dulu sewaktu menjadi trainee. Sekarang ia sudah lupa.
“keren sekali. Aku bahkan berpikir kalau kau bisa bermain piano sedangkan aku menyanyikan rapp beberapa lagu. Hahaha.”
“kau rapper??” tanya yoo jin antusias. “aku selalu ingin mendengarkan rapp secara live. Ayo aku mau dengar!!” yoo jin menarik2 tangan eun hyuk.
“tidak ah, tidak bagus,” kata eun hyuk merendah. Jelas2 rappnya nyaris sempurna.
“ayoo… sekali saja! ya ya ya.” Eun hyuk menarik nafas.
“baiklah. Sekali ya, dengarkan baik2 tidak ada siaran ulang,” kata eun hyuk. Ia berpikir sejenak. Lagu apa?? “Just move to the beat, It ain’t that hard, Heat’s rising up, Party’s just begun, You don’t have to be afraid, i’ll show you how, Say it with me now LA chA TA TA, Going all night o live it up, Go with the music and have some fun, Put it on repeat This is how we groove, Come on everybody, Show them how we do.” Eun hyuk menyanyikan bagian rapp dari lagu hoobaenya, f(x). setidaknya rapp itu tidak terlalu sulit untuknya, kecuali saat pengucapan bahasa inggrisnya.
“whoo.. lagu siapa itu??” tanya yoo jin.
“effect,” jawab eun hyuk singkat. Yoo jin mengangguk2an kepalanya, sok mengerti. Satu jam berikutnya mereka habiskan untuk makan malam dan mengobrol ringan, setelah itu mereka pulang.

~~~~~

Hari itu adalah hari minggu pertama di awal bulan. Eun hyuk dan yoo jin pergi ke museum Louvre, tempat dimana lukisan fenomenal, Monalisa karya Leonardo da vinci di simpan bersama dengan benda2 bersejarah lainnya. Mereka naik metro line 1 dan turun di Palais-Royal-Musée du Louvre station.
“dimana musiumnya?” tanya eun hyuk. Dia dari tadi hanya mengikuti yoo jin yang sudah hafal seluk beluk paris.
“tepat di atas stasiun ini. Ayo cepat.” Mereka berjalan lebih cepat menaiki tangga ke atas. “kau bawa denah musiumnya kan??” tanya yoo jin. eun hyuk hanya ber-ne saja.
Sampai di pintu masuk mereka beruntung mendapat tiket gratis karena hari itu adalah hari minggu pertama di awal bulan. Museum itu begitu luas dan panjang. Yoo jin dan eun hyuk menghemat langkah mereka dan sesekali duduk di kursi yang dapat mereka temukan sambil menikmati patung2 dan lukisan seniman Perancis abad 14-16.
Eun hyuk kaget sekali saat melihat lukisan monalisa. Ia hampir tidak percaya. Ini lukisan yang dikagumi banyak orang itu? Yang menjadi bagian dalam film the davinci code itu?? “biasa saja,” kata eun hyuk. Yoo jin langsung memukul bahunya. “ukurannya bahkan tidak lebih besar dari poster jumbo super junior,” gumam eun hyuk.
“sudah capek2 aku antar ke sini masih bilang biasa saja? lagipula kau kan belum tentu bisa meniru lukisan ini!” kata yoo jin. aku termasuk penggemar Leonardo da vinci ya!” tegasnya. Eun hyuk hanya ber-ne ne saja.
2 jam mereka habiskan di museum itu, bahkan belum semua area dilalui. Yoo jin sudah mengeluh kalau kakinya kesemutan karena sejak tadi terus menaiki tangga. Mereka akhirnya mengisi perut di "satu-satunya" foodcourt di Paris yang terletak di Caroussel du Louvre. Stand makanan di sana mewakili berbagai makanan dari beberapa negara seperti Italia, Spanyol, China, Perancis, Amerika-yang hanya ada menu burger-, Jepang, Libanon, dan lainnya.
“mau makan apa?” tanya yoo jin setelah mereka duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari jalan. Eun hyuk memperhatikan menunya.
“kimbab saja.” perkataan eun hyuk tersebut disambut gelak tawa dari yoo jin. “wae?”
“sudah jauh2 ke paris kau masih makan kimbab?? Aigoo..” yoo jin berdecak tidak percaya. Eun hyuk memasang tampang mencibir. Tapi pada akhirnya mereka berdua makan kimbab juga.
“kau orang korea, tinggal di paris sendirian sedangkan orang tuamu di London? Bagaimana bisa?”
“bisa saja,” kata yoo jin. ia melahap makanannya lagi. “aku sudah terbiasa. Makannya aku mengambil pekerjaan sampingan dengan bermain piano. Beruntung permainanku sudah masuk kategori menengah ke atas. Menyenangkan bukan?” kata yoo jin berbinar, mata biru yoo jin makin terlihat mempesona.
“kau tidak punya keluarga di sini? Kakak, atau adik?” tanya eun hyuk lagi. Yoo jin menggeleng halus.
“semua keluargaku di korea. Aku anak semata wayang. Ayahku bukan orang perancis, tapi blasteran korea dan inggris. Dan ibuku orang korea,” Eun hyuk mengangguk sok mengerti, setelah itu mereka tertawa bersama.
Dari museum, perjalanan dilanjutkan menuju ke shopping district paling terkenal, Champ Elysees dan berpusat di Arc de Triomphe. Mereka berhenti di metro stop Champ Elysees Clemenceau.
“kau yakin mau lanjut?” tanya yoo jin ragu2. “jalan ini sangat panjang untuk bisa sampai ke Arc de Triomphe. Kakiku bisa copot..” air muka yoo jin berubah khawatir, namun eun hyuk tidak menggubris.
“lanjut saja. aku kan penasaran. Jarang2 aku bisa liburan ke sini.” Dan akhirnya mereka melanjutkan jalannys. Jalan2 di sana sangat lebar, dan di sepanjang jalan banyak toko dan butik ternama. Pedestrian sangat lebar, mungkin 8-10 meter lebarnya dengan suasana yang sangat nyaman. Mereka melihat2 banyak toko. Eun hyuk ingat super junior yang sedang menantinya di korea sana dan berinisiatif membelikan mereka beberapa oleh2.
“eun hyuk aa!” seru yoo jin ketika mereka sedang berjalan menuju salah satu toko sepatu.
“wae??” eun hyuk menoleh. Yoo jin tertinggal jauh di belakangnya sambil memegangi kakinya. Eun hyuk mendekat. “kau kenapa?”
“aku capek. Tidak bisakah kita duduk dulu?” eun hyuk menggeleng. Yoo jin cemberut. “jahat sekali,” umpat yoo jin. Eun hyuk melanjutkan jalan di depan. Sedangkan yoo jin, ia duduk di kursi yang ada di sana. Biarkan saja. paling2 eun hyuk akan kembali mencarinya. Kan eun hyuk yang membutuhkannya. Dan benar saja, 15 menit kemudian eun hyuk kembali.
“kau kenapa berhenti?” yoo jin membuang muka. “YA!”
“aku capek! Lihat kelingkingku lecet.” Yoo jin menunjukkan kelingking kakinya yang memerah. “tega sekali kau terhadap wanita! Aku adukan pacarmu baru tahu rasa!” yoo jin membuang muka lagi, melihat anak2 berjaket tebal yang sedang berlarian sambil membawa lollipop.
“pegang ini.” Eun hyuk menyerahkan belanjaannya.
“YA! Maksudmu apa?!” eun hyuk jongkok di depan yoo jin.
“naik.” Eun hyuk menepuk bahunya. Yoo jin melongo. “kenapa diam saja, ayo naik?!” yoo jin, sambil senyum2 akhirnya naik juga. “aigoo.. beratmu berapa??”
“terakhir aku timbang 47 kg.” akhirnya eun hyuk menggemblok *bahasanya ancur* yoo jin sampai ke stasiun metro.

~~~~~~

Hari ini adalah sehari sebelum kepulangan eun hyuk ke korea. Ada sedikit rasa kecewa, sebenarnya. Ia harus meninggalkan paris yang indah itu dan juga harus berpisah dengan tour guide gratisnya. Yoo jin pribadi yang menyenangkan, pikir eun hyuk.
“the last destination, eiffel tower.” Yoo jin membaca buku panduan eun hyuk. “kenapa harus hari terakhir?” tanya yoo jin. eun hyuk tampak sedang berpikir. Matanya memandang ke segala arah. Iya ya, kenapa?
“molla. Aku juga tidak tahu.” Akhirnya sore itu mereka berangkat menuju eiffel tower. Mereka turun di stasiun Bir-Hakeim. Dari sana mereka berjalan menyusuri pinggir Seine Riviera menuju ke Eiffel Tower, landmark kota Paris.
Antrian orang untuk naik ke atas Eiffel tower sangatlah panjang. Eun hyuk sampai melotot waktu melihatnya. Kapan ia akan sampai atas kalau mengantri sekarang?
“nanti saja kalau sudah agak sepi,” kata yoo jin. dan setelah satu jam menunggu antrian itu malah makin ramai. Yoo jin menggigit jarinya ketika melihat betapa panjangnya antrian itu.
“kau sih!” kata eun hyuk menyalahkan.
“mian..”
Setelah menunggu selama kurang lebih 3 jam, mereka akhirnya sampai juga di puncak Eiffel tower. Pemandangan yang sungguh sangat spektakuler, sulit dilukiskan dengan kata2 *authornya aja yang gak bisa*. Lampu menara dengan daya puluhan ribu watt telah menyala. Ditambah view kota di atas menara setinggi 325 meter itu keindahan kota paris makin luar biasa. Mereka bisa melihat seluruh penjuru kota Paris yang hampir semua gedung bercat warna kuning tanah dan melihat gedung tinggi di area business.
“amazing…” eun hyuk terkagum2 sendiri melihatnya. “berbeda sedikit dengan pemandangan dari atas menara N di seoul sana.” Yoo jin terkekeh. Angin dingin mulai menyusup membelai kulit mereka. Namun dasar eun hyuk, lagi2 ia tidak peka dengan yoo jin yang sudah hampir membeku karena meladeni eun hyuk yang sudah berfoto selama hampir satu jam.
“sudah sudah. Kalau kau masih mau berfoto minta tolong dengan orang lain saja. aku hampir mati kedinginan.” eun hyuk ingin minta tolong, namun semua orang disekitarnya berpasangan. Mana mungkin ia mengganggu salah satu dari mereka? Kan tidak mungkin kalau ia tiba2 muncul dan bilang, ‘hai bisa tolong minta tolong ambilkan fotoku? Kalian baik sekali, muah! Saranghae!’ Bisa dilempar ke bawah ia. Eun hyuk akhirnya berfoto sendiri. Sedangkan yoo jin, ia mengumpat kesal sambil meringkuk dan mengusapkan kedua tangannya, mencari kehangatan.
“kau kenapa sih?” tanya eun hyuk yang baru sadar kalau yoo jin dari tadi diam saja.
“aku, ke-di-ngi-nan,” kata yoo jin pelan.
“kenapa kau tidak bilang?” yoo jin ingin sekali melempar eun hyuk ke bawah sana. Dari tadi ia sudah mengeluh kedinginan namun eun hyuk baru peka sekarang?? Ckckck.. “pakai ini.” Eun hyuk mengulurkan jaketnya. Yoo jin menggeleng tegas.
“andwee.. kau saja yang pakai, nanti kau sakit.” Eun hyuk memaksa yoo jin memakainya, namun yoo jin tetap saja tidak mau, walaupun sudah dipakaikan. Dan hasilnya, jaket itu jatuh ke bawah dengan sukses.
“kau sih!” kata eun hyuk. Yoo jin hanya manyun saja. orang ini bisanya hanya menyalahkan saja. tiba2 seorang pria asing menghampiri mereka. Yoo jin kaget, ia bersembunyi di belakang eun hyuk, namun terlambat, orang itu melihatnya.
“yoo jin..” katanya. Yoo jin hanya diam saja. “Qui est-il?” tanyanya. “boyfriend?” yoo jin menggigit bibirnya. Ia melirik eun hyuk sekilas, di terbengong-bengong sendiri.
“oui..” kata yoo jin. pria itu mengangguk.
“Je suis également venu avec son petit ami,” kata pria itu. Yoo jin tampak tidak tertarik, namun ia tetap saja bereaksi.
“vraiment?” pria itu mengangguk.
“au revoir. amusez-vous.” Pria itu melambai, lalu pergi. Eun hyuk bingung dari tadi mereka bicara apa.
“kalian bicara apa sih?” tanya eun hyuk bingung.
“aniyo. sudahlah, ayo pulang. Aku tidak betah melihat banyak orang pacaran di sini,” kata yoo jin. ia melihat ke sekitarnya. Semua berpasangan. Mesra2 sekali. Yoo jin jadi malu sendiri.
“kau iri? Kalau kau iri aku bisa berpura2 menjadi pacarmu. Sayang, kita mau kemana sekarang?” kata eun hyuk setengah terkekeh sambil merangkul yoo jin. Yoo jin menjitak kepala eun hyuk yang membuat eun hyuk mengaduh keras.
“babo saram!” yoo jin berjalan menuju lift, ingin turun.
“ya! Tunggu aku!”

~~~~

Hari itu akhirnya tiba, hari yang diam2 ditakuti eun hyuk. Hari dimana ia harus pulang ke tanah airnya, pulang ke tempat ia bekerja. Yoo jin mengantar eun hyuk sampai bandara. Mereka diam saja sepanjang perjalanan. Entah kenapa eun hyuk tampak berbeda.
“sebenarnya aku tidak mau mengantarmu,” kata yoo jin. eun hyuk memandangnya tanpa ekspresi, tidak bertanya apapun.
“aku sudah tahu semuanya tadi malam.” Yoo jin gantian memandang eun hyuk. “aku mendengar percakapanmu dengan teukie hyung.” Yoo jin tampak kaget. Pandangannya tiba2 kabur.
“kau tidak akan membenciku kan? Lee hyuk jae..” tanya yoo jin. “ini semua ide jung soo oppa. Dia terlalu khawatir padamu, jadi-dia minta-tolong-padaku-untuk-menjagamu, pura2 tidak kenal padamu… sebenarnya aku tidak mau, tapi…” sekarang air mata yoo jin sudah benar2 tumpah. Ia semakin terisak mendengar suara deru pesawat yang meninggalkan landasan pacu. “mianhae..” eun hyuk memeluk yoo jin, membiarkan yoo jin membasahi bajunya dengan air matanya itu. “mianhae.. jongmal mianhae..” setelah lama menangis, mereka jadi tidak berani bicara sampai pengumuman boarding pesawat. “itu, pesawatmu,” gumam yoo jin. eun hyuk menatap yoo jin sambil menggenggam kedua tangannya.
“aku menunggumu pulang ke korea,” kata eun hyuk. “studimu tinggal setahun lagi bukan? Aku menunggumu…” yoo jin terharu, ia kembali menangis. Ah, kenapa hari ini jadi melankolis sekali?
“jongmal?” eun hyuk mengangguk, lalu mencium kening yoo jin.
“kau bisa menghubungi teukie hyung jika merindukanku.” Yoo jin memukul eun hyuk pelan. eun hyuk berlari menuju gerbang keberangkatan, kedua tangannya bergerak membentuk hati. Yoo jin tertawa, lalu melambai pada eun hyuk. Ah, dia memang anggota super junior!!

~~~

Di dorm eun hyuk langsung marah2 dengan lee teuk. Ia mengikuti kemanapun lee teuk pergi. Ke kamar mandipun ia ikut menguntit sambil berceloteh tidak berhenti.
“hyung kenapa tidak bilang dari awal kalau yoo jin itu sepupumu?? Aaah.. hyung ini bagaimana sih!!! Aku kan sempat takut kalau yoo jin itu maling yang terpesona karena ketampananku dan bla.. bla.. bla…” eun hyuk terus saja berceloteh tanpa peduli member yang lain juga jadi marah2 karena ocehannya yang seperti ibu2 kehilangan cuciannya itu.
“EUN HYUK BISA DIAM TIDAK?!” teriak kangin dari ujung sana.

-End-

Saya gak jago bikin ending, mian kalo failed XD
Tp sumpah, puyeng bikinnya.
Comment ya, hargai author ini~~ *bow*

Kamus *terjemahan google translate*

Qui est-il?: siapa dia?
Oui: iya
Je suis également venu avec son petit ami : aku juga ke sini dengan pacarku.
vraiment?: benarkah?
au revoir. amusez-vous : aku pergi. Selamat bersenang-senang

susah loh buatnya waktu itu... makan hati. internet ngelag mulu.
dan source? mbah google of course :3 comments are love ya~


   

0 comment: