Sunday, September 13, 2009

fanfic. paris sonata

paris sonata

author mendapatkan inspirasi dari jewelguy yang sok berani ke paris sendirian.. hhe. this is just fan fiction, ok!! Author sok tau ttg paris padahal banyak nyontek di internet. ah ya, bahasa perancis di ini semua dari google translate, kalo salah salahin google translatenya! Dan percayalah, nggak semua yang ada di sini bener ya. Ada juga beberapa yang ngarang bebas… hhe. Source banyak banget.. o.0

enjoy this...

incheon airport pagi ini tetap beraktivitas seperti biasa. ramai oleh orang2 yang entah itu masuk atau ingin keluar korea. ada juga yang datang dari luar daerah. masing2 punya urusan sendiri, entah itu urusan bisnis, urusan keluarga, atau hanya sekedar berlibur. eun hyuk memegang tiket dan paspornya erat sambil mendengarkan rekannya berceloteh di sepanjang bandara incheon.
"aku dengar banyak gadis seksi di sana," kata yesung. eun hyuk tertawa mencibir. "hei, aku serius," tambahnya. lee teuk memukul kepala yesung sambil mengatainya. yang lain tertawa.
"kalau jadwalku tidak padat aku pasti ikut," ujar ryeo wook. "sayang kau pergi saat suju m sedang sibuk2nya." ryeo wook memasang tampang sedihnya.
"kau yakin mau pergi sendiri? maksudku, tanpa guide? di tempat tanpa bahasa inggris itu?" tanya lee teuk ragu. "aku tau kau sangat ceroboh hyukjae, jangan sampai kau tidak menemukan hotel dan tidur di pohon."
"ayolah hyung aku tidak sebodoh itu," kata eun hyuk. "aku membawa buku panduan. dan aku tidak akan tidur di atas pohon." yang lain tertawa membayangkan eun hyuk tidur di atas pohon sambil memeluk guling dan menatap langit malam yang dingin. mereka duduk di kursi seraya menunggu boarding pesawat sambil berbincang ringan mengenai apa yang bisa dilakukan eun hyuk di paris nanti.
“Dan lagi, jangan hanya mengucapkan nice weather di sana,” tambah lee teuk. “ah, kau ini membuatku pusing saja..”
"hyung, 2 minggu apa tidak terlalu lama??" tanya ryeo wook.
"kalau bisa aku mau pergi sampai sebulan. jarang2 sooman seonsaengnim memberiku libur begini." ryeo wook hanya manggut2 saja mendengar penuturan eun hyuk. "lalu hyung bagaimana nanti kalau ketika hyung pulang dorm sudah kosong karena kebakaran atau kemalingan atau mungkin SM sudah-"
" YA! kau ini banyak sekali bicara! sejak tadi kau tidak bisa diam," kata lee teuk memotong perkataan ryeo wook.
"kau tidak sopan ah hyung. aku kan sedang bertanya." ryeo wook membela diri. memang iya dia dari tadi banyak sekali bicara. tapi itu kan pelampiasan atas kekecewaannya tidak bisa ikut eun hyuk pergi.
'kepada para penumpang pesawat tujuan paris dengan nomor penerbangan 3s3fgh57..'
"ah, itu dia.." eun hyuk membereskan bawaanya setelah mendengar suara dari pusat informasi. "aku pergi." eun hyuk memeluk satu persatu rekannya yang ada di sana. "oh ya, sampaikan salamku untuk yang lain juga." eun hyuk melambai kepada rekannya, setelah itu ia masuk ke gerbang keberangkatan. *author udah lama gak naik pesawat jadi gimana2nya lupa XD*.
"hyung jangan lupa oleh2nya!!!" ryeo wook berteriak keras dan langsung disambut oleh pukulan yang cukup keras di bahunya. "YA! teukie hyung! kenapa memukulku??" ryeo wook mengusap2 bahunya dengan wajah meringis.
"babo. mana dia bisa dengar??" kata teukie. ryeo wook manyun. "sudahlah, ayo pergi!" rombongan itu meninggalkan bandara incheon dan kembali ke aktivitas masing2.

~~~

bandara Paris Charles de Gaulle hari ini super sibuk. bandara dengan interior klasik khas eropa itu seperti tidak pernah beristirahat. orang2 dengan tekstur wajah barat silih berganti lewat di depan eun hyuk. tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan imigrasi, eun hyuk sudah bisa menikmati kota paris. udara tidak bersahabat hari ini, dan tentu saja beberapa hari ke depan. eun hyuk merapatkan jaketnya. suhu udara di paris saat ini dibawah 15 derajat celcius. ia memperhatikan buku panduannya, mencocokkan dengan petunjuk jalan yang ada di sana. yang pertama ia cari adalah petunjuk lokasi subway.
sepanjang bandara eun hyuk mengumpat sendiri. di bandara sebesar ini sendirian tanpa bekal bahasa prancis. oh, ia mengharapkan ada E.L.F yang berbaik hati sekarang menunjukkan jalan menuju stasiun subway di bandara CDG ini. GYAAA~~ eun hyuk merasa ada yang berteriak di belakangnya. ia menoleh.
"LEE HYUK JAE~~~" yap. eun hyuk menarik nafas lega. pasti itu E.L.F. dan wajah mereka terlihat seperti orang korea. mata tanpa eyelids, kulit putih, rahang tinggi. benar, mereka orang korea. rombongan itu berjumlah sekitar 10 orang. eun hyuk mendekat ke arah mereka dan itu membuat mereka semakin histeris.
"err... annyeong..." ucap eun hyuk ragu2. ia meyakinkan dirinya kalau ia akan baik2 saja. mereka bisa mengantarnya sampai ke stasiun metro. "aku.. boleh.. minta tolong??" tanya eun hyuk penuh dengan kehati2an.
"tentu!! tentu saja!!" ucap salah seorang dari mereka. "aku kim hyun ah," katanya sambil mengulurkan tangan yang langsung disambut baik oleh eun hyuk. dan teman2nya langsung ramai lagi. gadis itu melempar pandangan serius ke arah teman2nya. "apa yang bisa aku eh, maksudnya apa yang bisa kami bantu??" eun hyuk menarik nafas sejenak.
"begini. bisa antarkan aku ke stasiun subway?? aku tidak mengerti papan petunjuk jalan itu.." kata eun hyuk. "aku sendirian," tambah eun hyuk sebelum gadis itu bertanya lebih jauh lagi.
Sampai di stasitun metro di airport CDG eun hyuk kebingungan karena karena suasananya yang tidak biasa, dan… di mana tempat untuk membeli tiket metro??
"ayo, ke sini." eun hyuk mengikuti rombongan e.l.f itu yang dari tadi masih saja mengambil gambarnya dengan kamera mereka. eun hyuk tidak keberatan karena merasa tidak enak dengan mereka. padahal dari tadi kepalanya pusing dengan blitz2 yang tidak berhenti itu. kim hyun ah berhenti di depan mesin berwarna kuning yang mirip mesin ATM.
"kenapa ke sini?" tanya eun hyuk. gadis itu tertawa.
"di sini tempat membeli tiketnya. dengan kartu kredit," jelasnya. eun hyuk hanya mengangguk. mana ia tahu, ini kan pertama kalinya ia menginjakkan kaki di paris. seorang diri pula. "oppa mau ke mana???" eun hyuk mengeluarkan buku petunjuknya.
"Hotel Belgrand yang letaknya di depan stasiun Porte De Bagnolet," kata eun hyuk sambil membaca bukunya. gadis itu tampak sibuk dengan benda yang mirip mesin ATM itu.
"ikuti petunjuk menuju platform kereta. Kereta yang melayani rute airport ini adalah kereta jalur RER line B. oppa dapat turun di stasiun Gare Du Nord atau Chatelet karena melayani interchange ke jalur lain, lalu ambil line 5 menuju Republique, dan tukar line 3 untuk berhenti di Porte De Bagnolet," kata kim hyun ah. eun hyuk melongo saja.
"hah?" dan rombongan makhluk2 cantik itu tertawa lagi.
"oppa jalur kereta di Paris adalah jalur yang complicated," kata salah seorang dari mereka. "sudahlah, ikuti saja petunjuknya dan kau akan sampai dengan selamat." wanita itu tersenyum.
"oh.. jeongmal gomawo untuk bantuannya..." eun hyuk membungkuk kepada mereka. mereka membalasnya.
"oppa!" panggil salah seorang dari mereka. eun hyuk menaikkan alisnya. "err.. bisakah kita foto bersama??"

~~~~

Eun Hyuk turun di stasiun Gare Du Nord. Sedikit terbengong-bengong juga karena stasiun ini besar sekali. ia menarik nafas dan kembali berpetualang, bermodalkan instingnya. eun hyuk jadi terngiang2 kata2 hyungnya. bagaimana kalau ia tidak menemukan hotel dan tidur di pohon?? aish.. eun hyuk buru2 mengusir kemungkinan terburuk itu dari otaknya. tenang saja, lee hyukjae pasti bisa sampai di tempat tujuan!
kira2 setengah jam sudah eun hyuk berputar2 di stasiun itu. ia kebingungan mencari rute menuju stasiun berikutnya. sambil mengumpat tidak jelas ia mencari petugas yang bisa berbahasa inggris. hasilnya nihil. jarang sekali ada orang perancis yang bisa berbahasa inggris. yeah, ia sudah memikirkan ini dari awal. dan ia tidak menyangka akan sesulit ini.
eun hyuk duduk di kursi panjang tempat menunggu metro. ia mengambil minuman kaleng dari tasnya, dan meminumnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri kalau2 ada orang yang bisa membantunya. siapa tahu ada E.L.F lagi. 15 menit sudah ia habiskan hanya untuk menunggu hal yang tidak pasti. menunggu E.L.F lewat atau ilham jatuh dari langit *aduh si ilham di rumahnya* *author dilempar sndal ganggu reader aja*. eun hyuk berdiri, memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya lagi, dengan bekal insting. Akhirnya eun hyuk selamat setelah menemukan petugas yang baik hati dan bisa sedikit bahasa Inggris. ia menunjukkan eun hyuk cara menuju stasiun tujuan.

~~~

hotel belgrand lumayan bagus, untuk kategori hotel pinggiran. eun hyuk sengaja tidak mengambil fasilitas yang wah selama ia di paris karena dengan begitu ia bisa merasakan menjadi 'tamu' di negeri orang. setelah mengistirahatkan kaki, eun hyuk keluar mencari makan. Cacing2 di dalam perutnya dari tadi sudah menggelar konser..
eun hyuk berjalan tanpa melihat ke depan. ia menengok ke kanan dan ke kiri dimana tempat seseorang yang menjual makanan hangat? ia lupa kalau hotel juga menyediakan makanan.
"aww!!" seru seseorang di depannya. eun hyuk heran, kenapa dia?? "vous faites un pas sur mes pieds," katanya dalam bahasa perancis. eun hyuk buru2 mengeluarkan buku sakunya. dia bilang apa??
"mianhae.. eh, sorry.. eh, excuse-moi," kata eun hyuk setelah ia sibuk membuka buku saku itu. "aduuh.." gumam eun hyuk.
"kau menginjak kakiku tau!!" katanya menggunakan bahasa korea. eun hyuk heran. orang korea lagi? eun hyuk melihat ke bawah. ya, dia menginjak kaki gadis itu.
"ew.. maaf.. maaf.." kata eun hyuk. gadis itu hanya cemberut saja. garis wajahnya tidak menunjukkan kalau ia orang korea. Matanya bulat besar dengan bola mata berwarna biru terang. Rambutnya blonde keriting bergelombang. mungkin blasteran. "kau orang korea??" tanya eun hyuk hati2.
"ne, aku orang korea. kau sendiri??" tanyanya. tiba2 ia menepuk keningnya. "ah, babo. tentu saja kau orang korea. ckck. siapa namamu?" eun hyuk heran. bagaimana bisa ada orang korea yang tidak mengenalinya?
"kau tidak tahu siapa aku?" tanya eun hyuk. gadis itu tertawa.
"bagaimana mungkin aku tahu siapa kau sedangkan kita baru bertemu?" katanya. "siapa namamu?" eun hyuk mengulurkan tangannya, menepis fakta bahwa ada orang korea yang tidak kenal siapa dirinya. Ah, ketinggalan jaman sekali orang ini, pikir eun hyuk.
"joneun lee hyuk jae imnida. kau bisa memanggilku eun hyuk," kata eun hyuk. gadis itu menjabat tangannya.
"joneun shin yoo jin imnida. ah, eun hyuk sshi.. manasso bangapseumnida.." kata yoo jin. eun hyuk mengangguk2. "kau mau kemana eun hyuk sshi??" tanya yoo jin. mereka sadar kalau mereka sedang mengobrol di tengah jalan. mereka menepi, mencari tempat duduk.
"aku ingin mencari makanan yang hangat. kau bisa membantuku?" yoo jin tersenyum.
"tentu, ayo." mereka menyusuri jalan setapak menuju pusat kota, tempat orang2 menjual makanan. sepanjang jalan mereka mengobrol banyak, -sebenarnya yoo jin yang lebih banyak bicara-. eun hyuk tidak ingin membongkar identitasnya sebagai personil super junior. tidak enak saja.
Setelah menemukan makanan, mereka mencari tempat duduk. Eun hyuk yang sudah sangat lapar langsung melahap semua yang ada di tangannya secepat yang ia bisa.
“oene oenoak, oapua nomonyoa? *ini enak, apa namanya?*” tanya eun hyuk dengan mulut penuh dengan makanan sampa2 makanan itu keluar dari mulutnya dan membuat yoo jin memandangnya jijik. “hhe. Mian..”
“pelan2 sajalah. Nikmati makan malammu dengan santai…” kata yoo jin sambil memperhatikan pria asing yang ada di sampingnya itu. Ia masih makan dengan lahap.
“malam??” tanya eun hyuk. “kenapa masih terang?” yoo jin tertawa.
“pertanyaan yang sama ketika aku baru sampai di sini 8 tahun lalu.” Yoo jin melihat ke langit. “sekarang jam 8 malam. Memang begini paris…” yoo jin mendelik ke arah eun hyuk, lalu mulai ikut makan.
“ah ya, ini namanya apa?!” tanya eun hyuk dengan nada memaksa. Dimanapun ia tetaplah lee hyukjae.
“haha. Ini hanya kebab turki, bukan makanan yang istimewa.”
Setelah menghabiskan makan malam sederhana itu, mereka berputar2 sebentar di sana. Melihat beberapa barang antic yang terbuat dari marmer dan keramik yang di jual di sepanjang jalan sambil sesekali mengobrol.
“jadi kau mahasiswi jurusan musik? Waw.” Eun hyuk takjub, tidak menyangka yoo jin yang super percaya diri ini masih seorang mahasiswi.
“tidak percaya, eh?” yoo jin mendelik. Eun hyuk membuang muka.
“aniyo.. aku hanya.. terkejut..” yoo jin tertawa mencibir. Eun hyuk spontan langsung ingat hyungnya, “tertawamu seperti teukie hyung.”
“hah?”
“ani..” lama mereka diam sambil menyusuri malam di paris yang semakin lama semakin larut dan semakin dingin. Yoo jin mengantar eun hyuk sampai di tempat tadi mereka bertemu lalu pulang.

~~~~~

Beberapa hari ini eun hyuk sudah mengunjungi banyak tempat, dengan shin yoo jin sebagai guide. Eun hyuk beruntung mendapatkan guide gratis di sana. Orang korea pula. Ketika ditanya kenapa, jawabannya, “aku sedang tidak ada kerjaan akhir2 ini. Lagipula aku sudah lama tidak jalan2 keliling paris.” Eun hyuk hanya iya2 saja, tidak menuntut kelanjutan cerita kenapa yoo jin mau dengan sukarela mengantarnya jalan2 di paris.
“hari ini aku tidak bisa menemanimu sampai malam. Hanya sampai jam 6,” kata yoo jin. ia duduk di pinggir air mancur sambil mengaduk2 airnya.
“waeyo?” tanya eun hyuk. Yoo jin berpaling, ia duduk menghadap eun hyuk.
“aku ada pertunjukan piano malam ini. Kalau kau mau kau bisa datang menonton.” Eun hyuk menaikkan alisnya, tampak tertarik.
“tentu saja. Kapan dan dimana?”
“amore café jam setengah delapan.” Eun hyuk mengeluarkan handphonenya, memasang pengingat. “ah ya, outfit resmi, jangan lupa.” Eun hyuk mengangguk.

~~~~

Amore café adalah café mewah dengan lampu dan interior khas barat yang soft, anggun dan elegan. Semua yang datang menggunakan jas dengan rambut licin disisir ke belakang. Sedangkan yang wanita menggunakan gaun malam anggun penuh payet dan berkelap-kelip. Eun hyuk mencari kursi nomor 13. ia sengaja meminta kursi nomor 13 karena kursi nomor 15 sudah dibooking. Tiba2 lampu mati dan lampu sorot dinyalakan.
Seorang gadis dengan gaun hitam berkilau dengan rambut panjang bergelombang yang hanya dihiasi jepitan kupu2 kecil berwarna ungu masuk. Eun hyuk menajamkan pandangannya. Itu shin yoo jin. omona… dia tampak lain. Yoo jin duduk di depan piano klasik berwarna hitam menghadap penonton.
Ting ting ting.. lagu pertama dimainkan. Pertama iramanya lambat, namun semakin lama gerakan tangan itu semakin cepat. Matanya bergerak cepat mengikuti tangannya, cepat sekali. Bergerak dari tuts satu ke tuts yang lain. Wajah serius yoo jin bahkan tidak mengurangi kecantikannya malam ini. Eun hyuk kaget sekaligus kagum. Jantungnya mencelos seperti hilang entah kemana. Permainan itu sungguh seperti permainan pianis professional. Sungguh di luar dugaan. Eun hyuk memastikan kalau mulutnya tidak menganga selama pertunjukan. Baru kali ini ia antusias melihat pertunjukan seperti ini. Biasanya 5 menit setelah pertunjukan dimulai ia sudah menghilang ke alam lain. Lagu pertama selesai. Penonton bertepuk tangan riuh rendah.
Lagu kedua dimainkan. Iramanya antara cepat-lambat-sedang. Jemari itu menari dengan indah di atas tuts piano 8 oktaf itu. Matanya sesekali melirik partitur lagu yang bersandar di depannya. Penonton banyak bergumam menggunakan bahasa perancis, entah apa itu eun hyuk tidak mau tahu. Ia sedang terfokus dengan permainan yoo jin. mustahil sekali permainan seperti ini dikuasai oleh seorang yang bukan pianis professional. Yah, tapi itulah. Yoo jin menguasainya.
Tiga lagu sudah selesai. Setelah membungkuk menghadap penonton, yoo jin menghilang di belakang panggung dan tak lama muncul di hadapan eun hyuk sambil memegang wajahnya. Kentara sekali kalau ia sedang gugup.
“permainanku, bagaimana??” tanya yoo jin dengan suara bergetar. Eun hyuk mengacungkan jempolnya.
“bagus sekali. Aku tidak menyangka kemampuanmu sungguh di atas rata2.” Yoo jin melebarkan senyumannya.
“jongmal?? Aku gugup sekali tadi. Itu pertama kalinya aku bermain sonata pada pertunjukanku,” katanya sambil memegangi wajahnya. Sonata? Eun hyuk pernah mendengarnya dulu sewaktu menjadi trainee. Sekarang ia sudah lupa.
“keren sekali. Aku bahkan berpikir kalau kau bisa bermain piano sedangkan aku menyanyikan rapp beberapa lagu. Hahaha.”
“kau rapper??” tanya yoo jin antusias. “aku selalu ingin mendengarkan rapp secara live. Ayo aku mau dengar!!” yoo jin menarik2 tangan eun hyuk.
“tidak ah, tidak bagus,” kata eun hyuk merendah. Jelas2 rappnya nyaris sempurna.
“ayoo… sekali saja! ya ya ya.” Eun hyuk menarik nafas.
“baiklah. Sekali ya, dengarkan baik2 tidak ada siaran ulang,” kata eun hyuk. Ia berpikir sejenak. Lagu apa?? “Just move to the beat, It ain’t that hard, Heat’s rising up, Party’s just begun, You don’t have to be afraid, i’ll show you how, Say it with me now LA chA TA TA, Going all night o live it up, Go with the music and have some fun, Put it on repeat This is how we groove, Come on everybody, Show them how we do.” Eun hyuk menyanyikan bagian rapp dari lagu hoobaenya, f(x). setidaknya rapp itu tidak terlalu sulit untuknya, kecuali saat pengucapan bahasa inggrisnya.
“whoo.. lagu siapa itu??” tanya yoo jin.
“effect,” jawab eun hyuk singkat. Yoo jin mengangguk2an kepalanya, sok mengerti. Satu jam berikutnya mereka habiskan untuk makan malam dan mengobrol ringan, setelah itu mereka pulang.

~~~~~

Hari itu adalah hari minggu pertama di awal bulan. Eun hyuk dan yoo jin pergi ke museum Louvre, tempat dimana lukisan fenomenal, Monalisa karya Leonardo da vinci di simpan bersama dengan benda2 bersejarah lainnya. Mereka naik metro line 1 dan turun di Palais-Royal-Musée du Louvre station.
“dimana musiumnya?” tanya eun hyuk. Dia dari tadi hanya mengikuti yoo jin yang sudah hafal seluk beluk paris.
“tepat di atas stasiun ini. Ayo cepat.” Mereka berjalan lebih cepat menaiki tangga ke atas. “kau bawa denah musiumnya kan??” tanya yoo jin. eun hyuk hanya ber-ne saja.
Sampai di pintu masuk mereka beruntung mendapat tiket gratis karena hari itu adalah hari minggu pertama di awal bulan. Museum itu begitu luas dan panjang. Yoo jin dan eun hyuk menghemat langkah mereka dan sesekali duduk di kursi yang dapat mereka temukan sambil menikmati patung2 dan lukisan seniman Perancis abad 14-16.
Eun hyuk kaget sekali saat melihat lukisan monalisa. Ia hampir tidak percaya. Ini lukisan yang dikagumi banyak orang itu? Yang menjadi bagian dalam film the davinci code itu?? “biasa saja,” kata eun hyuk. Yoo jin langsung memukul bahunya. “ukurannya bahkan tidak lebih besar dari poster jumbo super junior,” gumam eun hyuk.
“sudah capek2 aku antar ke sini masih bilang biasa saja? lagipula kau kan belum tentu bisa meniru lukisan ini!” kata yoo jin. aku termasuk penggemar Leonardo da vinci ya!” tegasnya. Eun hyuk hanya ber-ne ne saja.
2 jam mereka habiskan di museum itu, bahkan belum semua area dilalui. Yoo jin sudah mengeluh kalau kakinya kesemutan karena sejak tadi terus menaiki tangga. Mereka akhirnya mengisi perut di "satu-satunya" foodcourt di Paris yang terletak di Caroussel du Louvre. Stand makanan di sana mewakili berbagai makanan dari beberapa negara seperti Italia, Spanyol, China, Perancis, Amerika-yang hanya ada menu burger-, Jepang, Libanon, dan lainnya.
“mau makan apa?” tanya yoo jin setelah mereka duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari jalan. Eun hyuk memperhatikan menunya.
“kimbab saja.” perkataan eun hyuk tersebut disambut gelak tawa dari yoo jin. “wae?”
“sudah jauh2 ke paris kau masih makan kimbab?? Aigoo..” yoo jin berdecak tidak percaya. Eun hyuk memasang tampang mencibir. Tapi pada akhirnya mereka berdua makan kimbab juga.
“kau orang korea, tinggal di paris sendirian sedangkan orang tuamu di London? Bagaimana bisa?”
“bisa saja,” kata yoo jin. ia melahap makanannya lagi. “aku sudah terbiasa. Makannya aku mengambil pekerjaan sampingan dengan bermain piano. Beruntung permainanku sudah masuk kategori menengah ke atas. Menyenangkan bukan?” kata yoo jin berbinar, mata biru yoo jin makin terlihat mempesona.
“kau tidak punya keluarga di sini? Kakak, atau adik?” tanya eun hyuk lagi. Yoo jin menggeleng halus.
“semua keluargaku di korea. Aku anak semata wayang. Ayahku bukan orang perancis, tapi blasteran korea dan inggris. Dan ibuku orang korea,” Eun hyuk mengangguk sok mengerti, setelah itu mereka tertawa bersama.
Dari museum, perjalanan dilanjutkan menuju ke shopping district paling terkenal, Champ Elysees dan berpusat di Arc de Triomphe. Mereka berhenti di metro stop Champ Elysees Clemenceau.
“kau yakin mau lanjut?” tanya yoo jin ragu2. “jalan ini sangat panjang untuk bisa sampai ke Arc de Triomphe. Kakiku bisa copot..” air muka yoo jin berubah khawatir, namun eun hyuk tidak menggubris.
“lanjut saja. aku kan penasaran. Jarang2 aku bisa liburan ke sini.” Dan akhirnya mereka melanjutkan jalannys. Jalan2 di sana sangat lebar, dan di sepanjang jalan banyak toko dan butik ternama. Pedestrian sangat lebar, mungkin 8-10 meter lebarnya dengan suasana yang sangat nyaman. Mereka melihat2 banyak toko. Eun hyuk ingat super junior yang sedang menantinya di korea sana dan berinisiatif membelikan mereka beberapa oleh2.
“eun hyuk aa!” seru yoo jin ketika mereka sedang berjalan menuju salah satu toko sepatu.
“wae??” eun hyuk menoleh. Yoo jin tertinggal jauh di belakangnya sambil memegangi kakinya. Eun hyuk mendekat. “kau kenapa?”
“aku capek. Tidak bisakah kita duduk dulu?” eun hyuk menggeleng. Yoo jin cemberut. “jahat sekali,” umpat yoo jin. Eun hyuk melanjutkan jalan di depan. Sedangkan yoo jin, ia duduk di kursi yang ada di sana. Biarkan saja. paling2 eun hyuk akan kembali mencarinya. Kan eun hyuk yang membutuhkannya. Dan benar saja, 15 menit kemudian eun hyuk kembali.
“kau kenapa berhenti?” yoo jin membuang muka. “YA!”
“aku capek! Lihat kelingkingku lecet.” Yoo jin menunjukkan kelingking kakinya yang memerah. “tega sekali kau terhadap wanita! Aku adukan pacarmu baru tahu rasa!” yoo jin membuang muka lagi, melihat anak2 berjaket tebal yang sedang berlarian sambil membawa lollipop.
“pegang ini.” Eun hyuk menyerahkan belanjaannya.
“YA! Maksudmu apa?!” eun hyuk jongkok di depan yoo jin.
“naik.” Eun hyuk menepuk bahunya. Yoo jin melongo. “kenapa diam saja, ayo naik?!” yoo jin, sambil senyum2 akhirnya naik juga. “aigoo.. beratmu berapa??”
“terakhir aku timbang 47 kg.” akhirnya eun hyuk menggemblok *bahasanya ancur* yoo jin sampai ke stasiun metro.

~~~~~~

Hari ini adalah sehari sebelum kepulangan eun hyuk ke korea. Ada sedikit rasa kecewa, sebenarnya. Ia harus meninggalkan paris yang indah itu dan juga harus berpisah dengan tour guide gratisnya. Yoo jin pribadi yang menyenangkan, pikir eun hyuk.
“the last destination, eiffel tower.” Yoo jin membaca buku panduan eun hyuk. “kenapa harus hari terakhir?” tanya yoo jin. eun hyuk tampak sedang berpikir. Matanya memandang ke segala arah. Iya ya, kenapa?
“molla. Aku juga tidak tahu.” Akhirnya sore itu mereka berangkat menuju eiffel tower. Mereka turun di stasiun Bir-Hakeim. Dari sana mereka berjalan menyusuri pinggir Seine Riviera menuju ke Eiffel Tower, landmark kota Paris.
Antrian orang untuk naik ke atas Eiffel tower sangatlah panjang. Eun hyuk sampai melotot waktu melihatnya. Kapan ia akan sampai atas kalau mengantri sekarang?
“nanti saja kalau sudah agak sepi,” kata yoo jin. dan setelah satu jam menunggu antrian itu malah makin ramai. Yoo jin menggigit jarinya ketika melihat betapa panjangnya antrian itu.
“kau sih!” kata eun hyuk menyalahkan.
“mian..”
Setelah menunggu selama kurang lebih 3 jam, mereka akhirnya sampai juga di puncak Eiffel tower. Pemandangan yang sungguh sangat spektakuler, sulit dilukiskan dengan kata2 *authornya aja yang gak bisa*. Lampu menara dengan daya puluhan ribu watt telah menyala. Ditambah view kota di atas menara setinggi 325 meter itu keindahan kota paris makin luar biasa. Mereka bisa melihat seluruh penjuru kota Paris yang hampir semua gedung bercat warna kuning tanah dan melihat gedung tinggi di area business.
“amazing…” eun hyuk terkagum2 sendiri melihatnya. “berbeda sedikit dengan pemandangan dari atas menara N di seoul sana.” Yoo jin terkekeh. Angin dingin mulai menyusup membelai kulit mereka. Namun dasar eun hyuk, lagi2 ia tidak peka dengan yoo jin yang sudah hampir membeku karena meladeni eun hyuk yang sudah berfoto selama hampir satu jam.
“sudah sudah. Kalau kau masih mau berfoto minta tolong dengan orang lain saja. aku hampir mati kedinginan.” eun hyuk ingin minta tolong, namun semua orang disekitarnya berpasangan. Mana mungkin ia mengganggu salah satu dari mereka? Kan tidak mungkin kalau ia tiba2 muncul dan bilang, ‘hai bisa tolong minta tolong ambilkan fotoku? Kalian baik sekali, muah! Saranghae!’ Bisa dilempar ke bawah ia. Eun hyuk akhirnya berfoto sendiri. Sedangkan yoo jin, ia mengumpat kesal sambil meringkuk dan mengusapkan kedua tangannya, mencari kehangatan.
“kau kenapa sih?” tanya eun hyuk yang baru sadar kalau yoo jin dari tadi diam saja.
“aku, ke-di-ngi-nan,” kata yoo jin pelan.
“kenapa kau tidak bilang?” yoo jin ingin sekali melempar eun hyuk ke bawah sana. Dari tadi ia sudah mengeluh kedinginan namun eun hyuk baru peka sekarang?? Ckckck.. “pakai ini.” Eun hyuk mengulurkan jaketnya. Yoo jin menggeleng tegas.
“andwee.. kau saja yang pakai, nanti kau sakit.” Eun hyuk memaksa yoo jin memakainya, namun yoo jin tetap saja tidak mau, walaupun sudah dipakaikan. Dan hasilnya, jaket itu jatuh ke bawah dengan sukses.
“kau sih!” kata eun hyuk. Yoo jin hanya manyun saja. orang ini bisanya hanya menyalahkan saja. tiba2 seorang pria asing menghampiri mereka. Yoo jin kaget, ia bersembunyi di belakang eun hyuk, namun terlambat, orang itu melihatnya.
“yoo jin..” katanya. Yoo jin hanya diam saja. “Qui est-il?” tanyanya. “boyfriend?” yoo jin menggigit bibirnya. Ia melirik eun hyuk sekilas, di terbengong-bengong sendiri.
“oui..” kata yoo jin. pria itu mengangguk.
“Je suis également venu avec son petit ami,” kata pria itu. Yoo jin tampak tidak tertarik, namun ia tetap saja bereaksi.
“vraiment?” pria itu mengangguk.
“au revoir. amusez-vous.” Pria itu melambai, lalu pergi. Eun hyuk bingung dari tadi mereka bicara apa.
“kalian bicara apa sih?” tanya eun hyuk bingung.
“aniyo. sudahlah, ayo pulang. Aku tidak betah melihat banyak orang pacaran di sini,” kata yoo jin. ia melihat ke sekitarnya. Semua berpasangan. Mesra2 sekali. Yoo jin jadi malu sendiri.
“kau iri? Kalau kau iri aku bisa berpura2 menjadi pacarmu. Sayang, kita mau kemana sekarang?” kata eun hyuk setengah terkekeh sambil merangkul yoo jin. Yoo jin menjitak kepala eun hyuk yang membuat eun hyuk mengaduh keras.
“babo saram!” yoo jin berjalan menuju lift, ingin turun.
“ya! Tunggu aku!”

~~~~

Hari itu akhirnya tiba, hari yang diam2 ditakuti eun hyuk. Hari dimana ia harus pulang ke tanah airnya, pulang ke tempat ia bekerja. Yoo jin mengantar eun hyuk sampai bandara. Mereka diam saja sepanjang perjalanan. Entah kenapa eun hyuk tampak berbeda.
“sebenarnya aku tidak mau mengantarmu,” kata yoo jin. eun hyuk memandangnya tanpa ekspresi, tidak bertanya apapun.
“aku sudah tahu semuanya tadi malam.” Yoo jin gantian memandang eun hyuk. “aku mendengar percakapanmu dengan teukie hyung.” Yoo jin tampak kaget. Pandangannya tiba2 kabur.
“kau tidak akan membenciku kan? Lee hyuk jae..” tanya yoo jin. “ini semua ide jung soo oppa. Dia terlalu khawatir padamu, jadi-dia minta-tolong-padaku-untuk-menjagamu, pura2 tidak kenal padamu… sebenarnya aku tidak mau, tapi…” sekarang air mata yoo jin sudah benar2 tumpah. Ia semakin terisak mendengar suara deru pesawat yang meninggalkan landasan pacu. “mianhae..” eun hyuk memeluk yoo jin, membiarkan yoo jin membasahi bajunya dengan air matanya itu. “mianhae.. jongmal mianhae..” setelah lama menangis, mereka jadi tidak berani bicara sampai pengumuman boarding pesawat. “itu, pesawatmu,” gumam yoo jin. eun hyuk menatap yoo jin sambil menggenggam kedua tangannya.
“aku menunggumu pulang ke korea,” kata eun hyuk. “studimu tinggal setahun lagi bukan? Aku menunggumu…” yoo jin terharu, ia kembali menangis. Ah, kenapa hari ini jadi melankolis sekali?
“jongmal?” eun hyuk mengangguk, lalu mencium kening yoo jin.
“kau bisa menghubungi teukie hyung jika merindukanku.” Yoo jin memukul eun hyuk pelan. eun hyuk berlari menuju gerbang keberangkatan, kedua tangannya bergerak membentuk hati. Yoo jin tertawa, lalu melambai pada eun hyuk. Ah, dia memang anggota super junior!!

~~~

Di dorm eun hyuk langsung marah2 dengan lee teuk. Ia mengikuti kemanapun lee teuk pergi. Ke kamar mandipun ia ikut menguntit sambil berceloteh tidak berhenti.
“hyung kenapa tidak bilang dari awal kalau yoo jin itu sepupumu?? Aaah.. hyung ini bagaimana sih!!! Aku kan sempat takut kalau yoo jin itu maling yang terpesona karena ketampananku dan bla.. bla.. bla…” eun hyuk terus saja berceloteh tanpa peduli member yang lain juga jadi marah2 karena ocehannya yang seperti ibu2 kehilangan cuciannya itu.
“EUN HYUK BISA DIAM TIDAK?!” teriak kangin dari ujung sana.

-End-

Saya gak jago bikin ending, mian kalo failed XD
Tp sumpah, puyeng bikinnya.
Comment ya, hargai author ini~~ *bow*

Kamus *terjemahan google translate*

Qui est-il?: siapa dia?
Oui: iya
Je suis également venu avec son petit ami : aku juga ke sini dengan pacarku.
vraiment?: benarkah?
au revoir. amusez-vous : aku pergi. Selamat bersenang-senang

0 comment: